kamu bisa baca ini dalam: 6 menit saja
Insight artikel dalam ini:
- Kenapa mencari validasi manusia justru bikin capek, dan apa gantinya kata Al-Qur'an
- Bukti bahwa "lambat" bukan berarti gagal, dari kisah para nabi sendiri
- Ayat yang turun khusus karena keluhan seorang perempuan kepada Rasulullah ﷺ
Jadi perempuan hari ini itu capeknya berlapis.
Belum selesai satu urusan, sudah ada yang bertanya kapan nikah. Sudah nikah, ditanya kapan punya anak. Sudah punya anak, dibandingkan cara mengasuhnya. Kerja dibilang mengabaikan keluarga, di rumah dibilang tidak berkembang.
Lalu malamnya buka Instagram. Semua orang kelihatan sudah sampai duluan.
Kalau capek fisik itu bisa hilang dengan tidur. Tapi, capek yang ini beda. Dia ikut sampai ke kasur dan terkadang membuat tidak bisa tidur.
Masalahnya bukan cuma tekanannya
Tekanan dari luar itu memang tidak akan habis. Tapi yang lebih melelahkan justru cara kita meresponnya.
Kita jadi hidup dengan tiga kebiasaan yang pelan-pelan menguras: butuh persetujuan orang lain sebelum merasa cukup, memaksa semuanya harus cepat, dan mengukur diri sendiri pakai penggaris milik orang lain.
Tiga-tiganya bikin capek. Dan tiga-tiganya sudah dijawab Al-Qur'an.
Kalau dibiarkan bertahun-tahun, yang hilang bukan cuma ketenangan. Yang hilang adalah kemampuan menikmati hal-hal baik yang sebenarnya sudah kamu punya sekarang.
1. Berhenti menunggu izin orang lain untuk merasa cukup
Di penghujung surat At-Taubah, Allah mengajarkan satu kalimat untuk dipakai ketika orang-orang berpaling: "Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal." [S1]
Kalimatnya pendek. Tapi sebenernya isinya tentang "pemindahan sandaran".
Manusia sering memberi harapan yang tidak mereka tepati. Hari ini memuji, besok menghilang. Kalau nilai dirimu ditaruh di tangan mereka, kamu akan naik turun terus mengikuti mood orang.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa siapa yang mencari ridha Allah meski manusia marah, Allah akan meridhainya dan membuat manusia ikut ridha. Tapi siapa yang mencari ridha manusia dengan cara membuat Allah murka, Allah akan menyerahkan urusannya kepada manusia. [S2]
Diserahkan kepada manusia. Ngeri, ya.
Asiyah membuktikan ini. Istri Fir'aun, tinggal di istana paling megah, punya akses ke segalanya. Tapi doanya justru minta dibangunkan rumah di sisi Allah. [S3]
Perempuan yang bisa punya validasi dari siapa pun, memilih tidak membutuhkannya.
Dan Maryam. Dituduh oleh kaumnya sendiri, dalam kondisi paling rentan. Allah menyuruhnya diam, lalu Allah sendiri yang membela lewat bayi yang berbicara. [S4]
Kadang kamu tidak perlu menjelaskan apa pun. Cukup diam dan biarkan Allah yang menjawab.
2. Lambat bukan berarti gagal
Al-Qur'an menyebut malam dan siang sebagai dua tanda, masing-masing dengan fungsinya sendiri. Yang satu untuk berhenti, yang satu untuk bergerak. [S5]
Bahkan waktu saja punya jeda, punya proses.
Allah juga berfirman bahwa Dia menciptakan manusia melalui tahapan demi tahapan. [S6] Dan bahwa kita akan melalui satu fase ke fase berikutnya. [S7]
Bertahap. Bukan sekaligus.
Lihat saja siapa yang Allah pilih untuk contoh:
- Nabi Zakariya baru dikaruniai anak ketika rambutnya sudah memutih dan istrinya dianggap mustahil hamil. [S8]
- Nabi Nuh berdakwah 950 tahun. [S9]
- Nabi Muhammad ﷺ butuh 13 tahun di Makkah sebelum hijrah, dan 23 tahun sampai wahyu lengkap.
Kalau orang-orang terbaik saja diberi proses sepanjang itu, kenapa kamu marah pada diri sendiri karena belum "sampai" di usia menjelang 30?
Dan soal progres kecil, ini yang paling melegakan: amalan yang paling Allah cintai adalah yang konsisten, meskipun sedikit. [S10]
Sedikit tapi konsisten tiap hari. Justru itu yang bernilai.
Salat lima waktu dan membaca Al-Qur'an sebenarnya sedang melatih ini. Lima kali sehari kamu dipaksa berhenti, apa pun yang sedang dikejar. Bukan supaya lambat, tapi supaya langkahmu kuat dan tepat.
3. Berhenti mengukur hidupmu dengan penggaris orang lain
Ini bagian yang paling personal buat perempuan, dan ayatnya pun turun karena seorang perempuan.
Ummu Salamah radhiyallahu 'anha pernah menyampaikan keluhannya kepada Rasulullah ﷺ soal perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Lalu turunlah ayat: "Janganlah kamu berangan-angan terhadap apa yang Allah lebihkan kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain." [S11]
Perhatikan ujung ayatnya. Allah tidak menyuruh berhenti menginginkan. Allah menyuruh mengubah arah permintaannya: mintalah kepada Allah dari karunia-Nya.
Jadi bukan "jangan mau lebih". Tapi "jangan minta ke tempat yang salah".
Ada juga ayat yang rasanya ditulis untuk zaman seperti sekarang: "Janganlah kamu tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka." [S12]. Jangan lama-lama memandangi hidup orang lain. Ayatnya setua itu, masalahnya semuda ini.
Rasulullah ﷺ juga memberi tips yang sangat praktis: lihatlah orang yang berada di bawahmu, jangan melihat yang di atasmu, supaya kamu tidak meremehkan nikmat Allah padamu. [S13]
Dan Maryam lagi. Ketika Zakariya bertanya dari mana datangnya rezeki yang ada di sisinya, jawabannya cuma satu kalimat: dari Allah, yang memberi rezeki tanpa perhitungan. [S14]
Rezeki tiap orang punya pintunya sendiri. Kamu tidak akan menemukan pintumu kalau matamu terus di pintu orang lain.
Ini yang sering terjadi: kita punya jawabannya, tapi kita tidak pernah benar-benar membukanya. Al-Qur'an jadi bacaan rutin, bukan tempat mencari solusi.
Padahal hidup tenang itu bukan soal hidup tanpa masalah. Tapi punya cara pandang yang benar ketika masalahnya datang.
Itu yang dibahas di kelas Meet the Quran. Kita bedah tiga surat pendek yang sudah kamu hafal sejak kecil, dan lihat bagaimana ketiganya menjawab 1001 masalah yang hari ini terasa mustahil.
Bukan menghafal ulang. Tapi berkenalan ulang.
👉 Daftar kelas Meet the Quran di sini: https://mauikut.id/meetthequran
Sumber Rujukan
S1 | QS. At-Taubah: 129
S2 | HR. Tirmidzi no. 2414 dari Aisyah radhiyallahu 'anha
S3 | QS. At-Tahrim: 11 (doa istri Fir'aun, Asiyah)
S4 | QS. Maryam: 27–33
S5 | QS. Al-Isra': 12
S6 | QS. Nuh: 14
S7 | QS. Al-Insyiqaq: 19
S8 | QS. Maryam: 2–9 • QS. Ali 'Imran: 38–40
S9 | QS. Al-'Ankabut: 14
S10 | HR. Bukhari no. 6464 & Muslim no. 783 dari Aisyah radhiyallahu 'anha
S11 | QS. An-Nisa': 32 • Asbabun nuzul dari Ummu Salamah: HR. Tirmidzi no. 3022
S12 | QS. Thaha: 131
S13 | HR. Bukhari no. 6490 & Muslim no. 2963 dari Abu Hurairah
S14 | QS. Ali 'Imran: 37
S15 | QS. Al-Falaq: 5
Catatan: penomoran hadis mengikuti penomoran umum yang beredar (edisi Fathul Bari / Syarah Muslim). Bisa sedikit berbeda antar cetakan.